Artikel Terbaru
Mengubah Zakat Menjadi Gaya Hidup: Strategi Memikat Gen Z dan Milenial di Era Digital
Indonesia saat ini memegang predikat sebagai negara paling dermawan di dunia. Namun, di balik gelar tersebut, terdapat sebuah tantangan besar: potensi zakat nasional yang mencapai Rp 327 triliun, kenyataannya baru terealisasi sekitar Rp 40 triliun pada akhir 2024. Ada celah (gap) yang lebar antara potensi dan realitas.
Kunci untuk menutup celah tersebut kini berada di tangan dua generasi penggerak ekonomi: Generasi Z dan Milenial. Dengan populasi gabungan mencapai lebih dari 50% penduduk Indonesia, transformasi digital dalam filantropi Islam bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan.
1. Mengapa Digital? Menilik Determinasi Muzakki Muda
Mengapa anak muda mulai beralih ke zakat digital? Berdasarkan model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT), ada tiga pendorong utama:
Kecepatan dan Kemudahan: Bagi digital natives, aplikasi yang lambat adalah hambatan. Mereka mencari platform yang menawarkan efisiensi waktu.
Pengaruh Komunitas: Peran influencer dan komunitas hobi sangat krusial. Ketika zakat dibahas dalam lingkaran sosial mereka, hal itu menjadi sebuah norma baru.
Keabsahan Syariah: Menariknya, meski menyukai teknologi, anak muda tetap kritis terhadap aspek fikih. Mereka membutuhkan kepastian bahwa akad digital yang mereka lakukan tetap sah secara syariat meskipun tanpa tatap muka.
2. "Hobi Zakat": Strategi Edukasi Berbasis Gaya Hidup
Lembaga amil zakat (LAZ) kini mulai meninggalkan gaya komunikasi konvensional yang kaku. Strategi baru yang muncul adalah pendampingan berbasis gaya hidup:
Storytelling Visual: Melalui kampanye seperti #BerzakatKerennyaGakAdaObat, zakat dicitrakan sebagai bagian dari identitas modern yang positif.
Gamifikasi dan Fitur Otomatis: Kehadiran fitur Zakat Tracker atau donasi otomatis menciptakan kepuasan psikologis. Zakat tidak lagi terasa seperti beban tahunan, melainkan sebuah kebiasaan (habit) kecil yang berdampak besar.
Akar Rumput (Remaja Masjid): Pendampingan langsung pada remaja masjid terbukti efektif. Dengan melatih mereka menjadi pengelola zakat berbasis aplikasi, literasi zakat tumbuh dari lingkungan terkecil secara organik.
3. Dampak Nyata: Lebih dari Sekadar Angka
Transformasi ini membuahkan hasil signifikan. Data BAZNAS 2023 menunjukkan bahwa penyaluran zakat produktif telah berhasil mengentaskan kemiskinan sebesar 51,37%. Program-program seperti Z-Auto (bantuan modal bengkel) atau lumbung pangan telah mengubah para penerima zakat (mustahik) menjadi individu yang mandiri secara ekonomi, bahkan melampaui standar kecukupan (had al-kifayah).
4. Tantangan dan Masa Depan
Meski trennya positif, perjalanan masih panjang. Indonesia masih menghadapi tantangan berupa kesenjangan literasi digital antara Jawa dan luar Jawa, serta isu keamanan siber.
Langkah besar berikutnya yang dinantikan adalah integrasi teknologi Blockchain untuk transparansi mutlak, di mana pemberi zakat bisa melacak setiap rupiah yang mereka keluarkan secara real-time. Selain itu, dorongan regulasi agar zakat bisa menjadi pengurang pajak langsung (tax credit) diprediksi akan menjadi katalisator utama ledakan partisipasi publik.
Kesimpulan
Transformasi filantropi digital bukan sekadar tentang memindahkan kotak amal ke layar ponsel. Ini adalah tentang membangun ekosistem yang transparan, akuntabel, dan relevan dengan napas generasi muda. Dengan menggabungkan kemudahan teknologi dan keteguhan nilai spiritual, Indonesia berpeluang besar menjadikan zakat sebagai pilar utama pengentasan kemiskinan di masa depan.
ARTIKEL27/12/2025 | BAZNAS Kota Manado
Menguak Tabir: Mengapa Orang yang Mampu Belum Tersentuh Kesadaran Berzakat, Infak dan Sedekah?
Di tengah meningkatnya isu kesenjangan ekonomi dan tantangan sosial, peran infak dan sedekah menjadi semakin krusial. Ajaran agama sangat menganjurkan umatnya yang berlebih rezeki untuk berbagi. Namun, seringkali kita melihat fenomena paradoks: Banyak individu yang secara finansial mampu, namun kesadaran untuk secara rutin menyisihkan sebagian hartanya untuk berzakat berinfak dan bersedekah tampaknya masih rendah.
Apa yang menyebabkan jurang antara kemampuan finansial dan kesadaran spiritual ini?
1. Jebakan "Sindrom Kekurangan" (Scarcity Mindset)
Salah satu penghalang terbesar adalah pola pikir yang berakar pada ketakutan, atau scarcity mindset. Individu ini selalu merasa bahwa rezeki yang dimiliki belum cukup untuk menjamin masa depan. Padahal, Allah SWT telah menjanjikan pelipatgandaan bagi yang bersedekah.
Allah berfirman: "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 261)
2. Kurangnya Pengetahuan dan Pemahaman Kontekstual
Zakat Infak dan sedekah seringkali hanya dipahami sebatas kewajiban, tanpa memahami hikmah dan konsekuensi jangka panjangnya, yaitu pembersihan harta dari hak orang lain.
Allah SWT berfirman: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. At-Taubah: 103)
3. Ego dan Kepemilikan Mutlak: Harta adalah Amanah
Faktor ini berkaitan dengan bagaimana seseorang memandang hartanya. Ketika seseorang meyakini bahwa hartanya adalah hasil murni dari kerja kerasnya semata (otoritas kepemilikan mutlak), ia sulit meyakini bahwa di dalam harta tersebut terdapat hak orang lain.
"Kekayaan sejati tidak diukur dari apa yang Anda miliki, tetapi dari apa yang dapat Anda berikan."
— John D. Rockefeller, Pengusaha dan Filantropis Amerika
Kutipan ini menekankan pergeseran fokus dari akumulasi materi menjadi dampak sosial. Pandangan ini sejalan dengan ajaran Islam bahwa manusia hanyalah pengelola (khalifah) sementara di bumi.
4. Penundaan dan Anggapan "Nanti Saja"
Menunda-nunda (tasw?f) zakat infak dannsedekahbsering terjadi karena anggapan bahwa sedekah baru bernilai jika diberikan dalam jumlah besar. Padahal, sedekah terbaik adalah yang diberikan saat jiwa masih "pelit" dan merasa butuh.
Rasulullah SAW pernah ditanya tentang sedekah yang paling utama. Beliau bersabda: "Engkau bersedekah ketika engkau dalam keadaan sehat, kikir, takut miskin, dan berangan-angan untuk menjadi kaya. Janganlah menunda-nunda sehingga apabila nyawa sudah sampai di tenggorokan, barulah engkau berkata, ‘Untuk si Fulan sekian dan untuk si Fulan sekian,’ padahal harta itu sudah menjadi milik si Fulan (ahli waris)." (HR. Bukhari dan Muslim)
Membangun Kesadaran yang Berkelanjutan
Membangkitkan kesadaran berinfak yang berkelanjutan memerlukan perubahan pola pikir dan pendekatan yang strategis:
- Integrasikan dengan Kehidupan: Infak harus dijadikan pos pengeluaran wajib dan rutin, bukan sisa.
- Fokus pada Nilai Lebih: Ingatkan bahwa sedekah yang konsisten adalah benteng dari bencana dan penghapus dosa.
- Tanamkan Empati: Dorong interaksi langsung dengan mereka yang membutuhkan untuk melihat dampak nyata dari setiap rupiah yang disisihkan.
"Jika engkau sibuk menilai orang, engkau tidak punya waktu untuk mencintai mereka."
— Bunda Teresa, Misionaris dan Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian
Kutipan ini menggarisbawahi pentingnya empati dan tindakan nyata (cinta kasih) sebagai dasar untuk berbagi dan mengentaskan penderitaan.
Pada akhirnya, infak adalah tentang transformasi hati—mengubah rasa takut kekurangan menjadi rasa percaya akan janji Tuhan, dan mengubah ego kepemilikan menjadi semangat berbagi.(*)
ARTIKEL12/12/2025 | BAZNAS Kota Manado
Simfoni Derita dan Kebangkitan: ZIS Sebagai Epistemologi Solidaritas
Dalam pusaran chaos yang ditinggalkan oleh amukan alam—entah itu gempa yang merobek bumi, atau rentetan bencana hidrometeorologi (Banjir Bandang dan Longsor) yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang puncaknya dimulai sejak akhir November 2025—kita dihadapkan pada pertanyaan fundamental tentang eksistensi dan relasi kemanusiaan. Bencana, yang terjadi pada momen kronologis yang tiba-tiba, adalah sebuah interupsi metafisik; ia menelanjangi ilusi kemapanan dan memaksakan kita untuk mengakui kerapuhan eksistensi material.
Sebagaimana filosof Perancis, Jean-Paul Sartre, pernah menyatakan, "Eksistensi mendahului esensi."
Di tengah puing-puing, esensi sejati kemanusiaan kita—yakni solidaritas dan tanggung jawab—muncul melampaui eksistensi materi yang telah luluh lantak. Kita menemukan diri kita yang sejati, bukan dalam harta yang hancur, tetapi dalam tindakan uluran tangan. Dari sinilah lahir sebuah epistemologi (ilmu pengetahuan) baru, sebuah cara berpikir yang melampaui logika self-interest: Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS).
Zakat: Manifestasi Tauhid dalam Geometri Harta
Zakat bukanlah sekadar pungutan pajak, melainkan sebuah deklarasi teologis yang menegaskan bahwa kepemilikan sejati (al-Mulk) hanyalah milik Allah semata. Harta yang kita genggam adalah amanah sementara, yang di dalamnya tersemat hak bagi kaum mustahik (mereka yang berhak menerima).
Zakat, sebagai Rukun Islam ketiga, adalah geometri sosial yang menyeimbangkan polaritas kaya dan miskin. Ia mematahkan dialektika penimbunan dan memicu sirkulasi keberkahan. Dalam konteks bencana, Zakat adalah suntikan eksistensial bagi korban yang tiba-tiba terjerembab ke dalam jurang kefakiran akibat hilangnya tempat tinggal dan mata pencaharian.
Allah berfirman dalam Kitab Suci, menjelaskan fungsi Zakat dalam membersihkan dan menenangkan jiwa:
"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Q.S. At-Taubah: 103)
Ayat ini menegaskan fungsi Zakat: tathhir (pembersihan) harta dan jiwa muzakki, serta taskin (ketenteraman) jiwa mustahik yang sedang dilanda ketidakpastian.(*)
ARTIKEL08/12/2025 | BAZNAS MANADO
Investasi Jariyah di Hari Guru: Salurkan ZIS Anda ke BAZNAS Manado, Wujudkan - Manado Hebat -
BAZNAS Kota Manado mengucapkan Selamat Hari Guru Nasional kepada para pendidik. Guru adalah pahlawan sejati yang membentuk karakter mulia generasi muda. Apresiasi harus diwujudkan dalam dukungan nyata bagi guru, terutama yang berjuang dalam keterbatasan.
BAZNAS Dukung Manado Hebat
BAZNAS Kota Manado aktif menyalurkan dana ZIS (Zakat, Infak, Sedekah) untuk program pendidikan unggulan. Ini adalah upaya mendukung visi kemajuan pendidikan dan kesejahteraan guru. Program ini bertujuan mewujudkan cita-cita Manado Hebat.
Program "Manado Hebat" memberikan bantuan biaya dan peralatan sekolah. Program ini diprioritaskan untuk anak-anak dhuafa dan juga para pendidik.
Santunan Guru Mengaji
Peran guru mengaji sangat vital bagi akhlak dan spiritualitas anak-anak kita. BAZNAS Manado memberikan santunan rutin kepada guru mengaji. Bantuan ini adalah wujud nyata dukungan ZIS kita terhadap pendidikan agama sebagai benteng moral.
Ajakan Mulia Kepada Muzakki
Para Muzakki yang dimuliakan Allah SWT, Hari Guru ini adalah momentum amal jariyah terbaik. Salurkan Zakat Anda melalui BAZNAS Kota Manado. Dana ZIS Anda dikelola transparan untuk program berdampak langsung.
Anda menjadi donatur Program Manado Hebat dan penopang kesejahteraan Guru Mengaji. Setiap rupiah ZIS membantu seorang guru mengajar dengan tenang dan menjamin pendidikan agama terus berjalan.
Mari wujudkan Manado Hebat bersama! Dukung perjuangan para guru dan tenaga pendidik. Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) terbaik Anda ke BAZNAS Kota Manado sekarang!
ARTIKEL27/11/2025 | Humas
Arsitek Keadilan di Rimba Tropis: Zakat, Manado, dan Jembatan Kemakmuran
"Kekayaan sejati sebuah kota tidak terletak pada menara-menara kacanya yang menjulang, melainkan pada kokohnya fondasi yang dibangun oleh tangan-tangan yang berbagi di sudut-sudut paling sunyi."
Manado, sebuah kota yang diselimuti kemegahan rimba tropis dan garis pantai yang memukau, adalah kanvas keindahan alam sekaligus labirin kompleksitas sosial.
Di balik birunya Teluk yang memancarkan pesona, terdapat tantangan yang berkelindan—keragaman yang harus dirawat, dan disparitas ekonomi yang harus dijembatani.
Di sinilah, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Manado hadir. Kami bukan sekadar institusi pengumpul dana; kami adalah Arsitek Keadilan Sosial.
Tugas kami adalah merancang dan membangun struktur kesejahteraan yang kokoh di tengah hiruk-pikuk kota, memastikan bahwa prinsip spiritualitas tidak sekadar menjadi ornamen, melainkan menjadi pilar utama Jembatan Kemakmuran.
Zakat: Fondasi Arsitektur Keadilan
Jika kita memandang Zakat dari lensa peradaban, ia adalah salah satu fondasi struktural yang diwariskan oleh Islam. Tugas kami di BAZNAS adalah menerjemahkan fondasi etik yang termaktub dalam ajaran klasik ke dalam peta pembangunan modern Manado.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin telah lama mengingatkan bahwa harta memiliki dimensi moral yang harus disucikan. Zakat adalah mekanisme korektif peradaban yang mencegah keretakan sosial akibat jurang kekayaan.
Di tangan BAZNAS Manado, Zakat tidak lagi dipandang sebagai sekadar pertolongan karitatif (batu bata lepas), tetapi sebagai bahan baku untuk membangun infrastruktur kemandirian ekonomi umat (masterplan pembangunan).
Kami sedang bergeser dari paradigma memberi ikan menjadi membangun pabrik pengolahan ikan. Transformasi ini diwujudkan melalui:
Pilar Ekonomi (Modal Produktif): Memberikan modal usaha mikro yang terukur, mengubah mustahik dari penerima menjadi aktor ekonomi yang produktif (muzakki di masa depan).
Pilar Pendidikan (Program Manado Hebat): Menjamin anak-anak kurang mampu mendapatkan hak pendidikan, yang merupakan investasi jangka panjang paling vital dalam pembangunan kota. ?
Melalui Program sejahtera (Manado Makmur), Zakat menjadi Modal Sosial yang menguatkan ekonomi mikro umat, sejalan dengan visi Manado sebagai kota yang maju dan sejahtera.
Merentang Jembatan di Rimba Pluralisme
Kekuatan utama Manado adalah pluralismenya. Keragaman ini ibarat rimba tropis yang subur namun penuh liku. BAZNAS beroperasi di jantung "rimba" ini, menyadari bahwa arsitektur keadilan harus dirancang secara lintas disiplin dan inklusif.
Kami berdialog dengan ekonom, sosiolog, bahkan pegiat lingkungan di Sulawesi Utara. Kami tidak hanya mengumpulkan data statistik kemiskinan; kami membaca peta emosional dan sosiologis kota. Distribusi Zakat harus sensitif terhadap konteks lokal dan kearifan masyarakat pesisir maupun daratan.
Lebih mendasar lagi, Zakat harus menjadi Jembatan Harmoni. Walaupun fokus kami pada umat Muslim, dampak kesejahteraan yang kami bangun harus memancar keluar. Konsep Rahmatan lil Alamin (rahmat bagi seluruh alam) mengharuskan BAZNAS memastikan bahwa stabilitas sosial yang kami ciptakan turut berkontribusi pada kerukunan seluruh warga Manado.
Integritas Arsitek dan Kokohnya Bangunan
Sebuah bangunan megah tidak akan bertahan tanpa integritas arsiteknya. Begitu pula BAZNAS. Di tengah arus informasi yang deras, ujian terbesar kami adalah menjaga kepercayaan (trust) publik—sebuah pondasi moral yang tak ternilai harganya.
Dana Zakat, sebagai dana publik yang paling spiritual, menuntut transparansi setajam kristal. Setiap rupiah yang kami terima adalah amanah suci yang harus dipertanggungjawabkan hingga ke penerima terakhir. Ketika akuntabilitas dijunjung tinggi, legitimasi BAZNAS akan kokoh, melampaui kepentingan sesaat.
Kami sadar, kami adalah wujud kolektif dari pesan Emha Ainun Najib: pemimpin dan intelektual harus "ikut menanggung beban rakyat." Dari Kota Manado, dengan pemandangan Teluk yang selalu menyegarkan, kami berkomitmen:
BAZNAS adalah Laboratorium Peradaban yang membuktikan bahwa spiritualitas (Zakat) mampu menjadi Arsitek Keadilan yang kokoh, merentang Jembatan Kemakmuran di tengah kompleksitas Rimba Tropis.
Marwah kami tidak terletak pada megahnya struktur fisik, melainkan pada keabadian Fondasi Kemanusiaan yang kami tanamkan di hati setiap warga kota.
Mari bersama BAZNAS Kota Manado membangun jembatan kemakmuran dan mengukir keadilan sosial. Salurkan zakat, infak dan sedekah Anda melalui:
https://kotamanado.baznas.go.id/sedekah
#BAZNASManado #ZakatProduktif #KotaManado #JembatanKemakmuran #KeadilanSosial #SedekahOnline #AyoBerzakat #ManadoHebat
ARTIKEL23/11/2025 | Taufiq T. Permata
A Reflection on Heroes' Day: Continuing the Baton of Struggle with the Spirit of Zakat Justice
Heroes' Day, which we commemorate every November 10th, is not merely an annual celebration. It is a vital moment to reflect on the intrinsic meaning of struggle and sacrifice. Our heroes fought with their wealth, bodies, and even lives for one purpose: the independence and welfare of the nation.
In Manado City, the heroic spirit of 1945 must be transformed into a contemporary struggle. If the heroes once fought against physical colonialism, we are now faced with a different challenge: the battle against poverty and economic injustice.
This is where the spirit of heroism and the noble task of BAZNAS Manado converge.
Zakat in the Spirit of Jihad and Sacrifice
The struggle of our heroes is a clear manifestation of the spirit of Jihad (striving diligently) in the path of Allah to establish justice and collective welfare. This spirit is highly relevant to the Islamic command to help one another and care for the vulnerable (dhuafa).
Allah SWT says in the Holy Qur'an, which includes the command to spend in charity and do good as preparation for the Hereafter:
"And spend in the way of Allah and do not throw [yourselves] with your [own] hands into destruction [by refraining]. And do good; indeed, Allah loves the doers of good." (QS. Al-Baqarah: 195)
This verse implies that generosity and doing good (including fulfilling the obligation of Zakat) is the way to safeguard the community from destruction (including the destruction caused by extreme poverty).
Zakat as a Weapon for Social Justice
Zakat, Infaq, and Sadaqah (ZIS) are the most effective Islamic instruments in establishing social justice. If the spirit of our heroes was characterized by collectivity and selfless sacrifice, then that spirit must now be manifested in the movement of sharing.
The Spirit of Sacrifice: Let us emulate the heroes' sacrifice by fulfilling our Zakat obligations. By paying Zakat, we sacrifice a portion of our wealth for the benefit of the community, just as our predecessors sacrificed everything for the nation.
Collective Mutual Cooperation (Gotong Royong): BAZNAS Manado serves as the collective platform for Muzakki (Zakat payers) to ensure these funds are accurately distributed to Mustahik (Zakat recipients) throughout the city.
This concept is strongly affirmed by the saying of the Messenger of Allah, Prophet Muhammad SAW, who emphasized the importance of the Muslim community's social responsibility:
"The similitude of believers in regard to mutual love, affection, fellow-feeling is that of one body; when any limb of it aches, the whole body aches, because of sleeplessness and fever." (HR. Muslim)
Continuing the Baton of Prosperity
To commemorate Heroes' Day means we are determined to become 'Heroes' for one another through social care. BAZNAS Manado invites all components of society—civil servants (ASN), private sector employees, and the Muslim community in Manado:
"Let us make Zakat our 'ammunition' in the economic jihad. Let us continue the heroes' baton of struggle by creating self-reliance and prosperity for the Mustahik, so that the ideals of a fair and prosperous independence can truly be realized in Manado City."
With the spirit of November 10th, let us cooperate, pay Zakat, and move together toward a blessed and prosperous Manado.
ARTIKEL10/11/2025 | Taufiq Permata
Mengapa Hasil Korupsi Tidak Bisa Jadi Zakat, Infak, atau Sedekah?
Dalam kehidupan sehari-hari, sering muncul pertanyaan: “Kalau ada orang korupsi lalu uangnya disedekahkan, apakah itu diterima sebagai amal?”
Jawabannya jelas: tidak bisa.
1. Allah Hanya Menerima yang Halal
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu Maha Baik, dan Allah tidak menerima kecuali dari yang baik (halal).” (HR. Muslim)
Artinya, sedekah atau zakat baru bernilai ibadah bila diambil dari harta yang halal. Kalau asalnya dari hasil korupsi, sogok, atau curian, maka sama sekali tidak diterima.
2. Harta Korupsi Bukan Milik Pribadi
Syarat sah zakat adalah harta itu benar-benar milik seseorang. Sementara harta korupsi sejatinya milik negara atau masyarakat. Maka, orang yang korupsi tidak punya hak untuk “berzakat” atau “bersedekah” dengan uang itu. Kewajiban yang benar adalah mengembalikan kepada pemilik yang sah, bukan menyalurkannya atas nama kebaikan.
Allah SWT sudah mengingatkan:
“Janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan cara yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 188)
3. Amal dari Harta Haram Tidak Membawa Pahala
Orang mungkin mengira, “Daripada dipakai foya-foya, lebih baik saya sedekahkan.” Tapi dalam pandangan Islam, itu sama saja seperti menutupi kesalahan dengan kesalahan lain. Sedekah dari harta haram tidak membawa pahala, justru menambah dosa, karena hak orang lain masih tertahan.
4. Jalan yang Benar bagi Koruptor
Kalau ingin bertaubat, caranya jelas:
1. Berhenti dari perbuatan korupsi.
2. Mengembalikan harta yang dirampas.
3. Memohon ampunan Allah dengan sungguh-sungguh.
Setelah itu barulah ia bisa beribadah dengan harta halal yang benar-benar miliknya.
Penutup
Zakat, infak, dan sedekah adalah ibadah mulia, tapi hanya bernilai jika bersumber dari harta halal. Hasil korupsi tidak bisa dipakai untuk “mencuci dosa” karena Allah tidak menerima sesuatu yang kotor.
Harta halal mungkin sedikit, tapi penuh berkah. Sebaliknya, harta haram meski banyak, hanya membawa musibah.(*)
ARTIKEL02/10/2025 | Taufiq T. Permata
Merdeka untuk Menyejahterakan Umat
Salah satu asnaf penerima zakat yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah riqab, yaitu budak yang dimerdekakan.
Pesan ini begitu dalam: zakat bukan hanya soal berbagi harta, tetapi juga sarana membebaskan manusia dari belenggu ketidakadilan, keterikatan, dan keterkungkungan hidup.
Hari ini (17 Agustus 2025), ketika kita memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-80, makna merdeka harus kita tafsirkan kembali sesuai konteks bangsa.
Indonesia sudah bebas dari penjajahan fisik, tetapi masih banyak saudara-saudara kita yang terbelenggu oleh kemiskinan, keterbatasan akses pendidikan, kesenjangan ekonomi, dan ketidakadilan sosial. Di sinilah peran zakat menemukan relevansinya.
Sebagai lembaga pemerintah nonstruktural yang diberi amanah Undang-Undang, BAZNAS hadir sebagai instrumen nyata untuk memerdekakan umat dari kemiskinan.
Zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya bukan hanya sekadar kewajiban ibadah, melainkan energi sosial yang dapat melahirkan kemerdekaan baru—kemerdekaan dari kesulitan hidup.
Manado dan Spirit Kemerdekaan
Kota Manado dikenal sebagai kota toleransi, kota perdagangan, dan kota yang penuh energi kebersamaan. Namun, sebagaimana kota-kota lain di Indonesia, masih ada masyarakat kita yang belum merasakan sepenuhnya arti merdeka.
Mereka yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, anak-anak yang tertinggal dalam pendidikan, hingga masyarakat yang rapuh secara kesehatan dan ekonomi.
Di sinilah BAZNAS Kota Manado mengambil peran. Melalui program-program pemberdayaan, distribusi zakat produktif, dan layanan sosial, kami berkomitmen menjadi garda terdepan dalam menyejahterakan umat.
Kami ingin memastikan bahwa semangat kemerdekaan bukan hanya dirayakan di lapangan upacara, tetapi juga dirasakan di meja makan masyarakat kecil, di sekolah-sekolah anak dhuafa, dan di usaha kecil para mustahik yang sedang berjuang bangkit.
Kemerdekaan yang Berkelanjutan
Merdeka bukan hanya soal lepas dari belenggu, tetapi juga soal berdaya dan sejahtera. Jika dulu para pejuang bangsa mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan politik, maka hari ini kita dipanggil untuk berjuang dalam memerdekakan umat dari kemiskinan struktural.
BAZNAS Kota Manado percaya bahwa dengan sinergi seluruh lapisan masyarakat, potensi zakat yang besar di kota ini dapat menjadi sumber energi baru untuk pembangunan sosial.
Mari kita jadikan zakat sebagai jalan panjang kemerdekaan, agar tidak ada lagi masyarakat yang merasa terpinggirkan dari hasil pembangunan.
Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-80.
Semoga Allah SWT meridai langkah kita semua dalam menjaga amanah kemerdekaan ini. Dan semoga, melalui peran BAZNAS, kita dapat menghadirkan Indonesia yang lebih adil, makmur, dan sejahtera—dimulai dari Kota Manado tercinta.
Merdeka!
ARTIKEL16/08/2025 | Ketua|Taufiq Permata

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Manado.
Lihat Daftar Rekening →