Menguak Tabir: Mengapa Orang yang Mampu Belum Tersentuh Kesadaran Berzakat, Infak dan Sedekah?
12/12/2025 | Penulis: BAZNAS Kota Manado
Sedekah Membuka Pintu Rezeki dan Keberkahan
Di tengah meningkatnya isu kesenjangan ekonomi dan tantangan sosial, peran infak dan sedekah menjadi semakin krusial. Ajaran agama sangat menganjurkan umatnya yang berlebih rezeki untuk berbagi. Namun, seringkali kita melihat fenomena paradoks: Banyak individu yang secara finansial mampu, namun kesadaran untuk secara rutin menyisihkan sebagian hartanya untuk berzakat berinfak dan bersedekah tampaknya masih rendah.
Apa yang menyebabkan jurang antara kemampuan finansial dan kesadaran spiritual ini?
1. Jebakan "Sindrom Kekurangan" (Scarcity Mindset)
Salah satu penghalang terbesar adalah pola pikir yang berakar pada ketakutan, atau scarcity mindset. Individu ini selalu merasa bahwa rezeki yang dimiliki belum cukup untuk menjamin masa depan. Padahal, Allah SWT telah menjanjikan pelipatgandaan bagi yang bersedekah.
Allah berfirman: "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 261)
2. Kurangnya Pengetahuan dan Pemahaman Kontekstual
Zakat Infak dan sedekah seringkali hanya dipahami sebatas kewajiban, tanpa memahami hikmah dan konsekuensi jangka panjangnya, yaitu pembersihan harta dari hak orang lain.
Allah SWT berfirman: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. At-Taubah: 103)
3. Ego dan Kepemilikan Mutlak: Harta adalah Amanah
Faktor ini berkaitan dengan bagaimana seseorang memandang hartanya. Ketika seseorang meyakini bahwa hartanya adalah hasil murni dari kerja kerasnya semata (otoritas kepemilikan mutlak), ia sulit meyakini bahwa di dalam harta tersebut terdapat hak orang lain.
"Kekayaan sejati tidak diukur dari apa yang Anda miliki, tetapi dari apa yang dapat Anda berikan."
— John D. Rockefeller, Pengusaha dan Filantropis Amerika
Kutipan ini menekankan pergeseran fokus dari akumulasi materi menjadi dampak sosial. Pandangan ini sejalan dengan ajaran Islam bahwa manusia hanyalah pengelola (khalifah) sementara di bumi.
4. Penundaan dan Anggapan "Nanti Saja"
Menunda-nunda (tasw?f) zakat infak dannsedekahbsering terjadi karena anggapan bahwa sedekah baru bernilai jika diberikan dalam jumlah besar. Padahal, sedekah terbaik adalah yang diberikan saat jiwa masih "pelit" dan merasa butuh.
Rasulullah SAW pernah ditanya tentang sedekah yang paling utama. Beliau bersabda: "Engkau bersedekah ketika engkau dalam keadaan sehat, kikir, takut miskin, dan berangan-angan untuk menjadi kaya. Janganlah menunda-nunda sehingga apabila nyawa sudah sampai di tenggorokan, barulah engkau berkata, ‘Untuk si Fulan sekian dan untuk si Fulan sekian,’ padahal harta itu sudah menjadi milik si Fulan (ahli waris)." (HR. Bukhari dan Muslim)
Membangun Kesadaran yang Berkelanjutan
Membangkitkan kesadaran berinfak yang berkelanjutan memerlukan perubahan pola pikir dan pendekatan yang strategis:
- Integrasikan dengan Kehidupan: Infak harus dijadikan pos pengeluaran wajib dan rutin, bukan sisa.
- Fokus pada Nilai Lebih: Ingatkan bahwa sedekah yang konsisten adalah benteng dari bencana dan penghapus dosa.
- Tanamkan Empati: Dorong interaksi langsung dengan mereka yang membutuhkan untuk melihat dampak nyata dari setiap rupiah yang disisihkan.
"Jika engkau sibuk menilai orang, engkau tidak punya waktu untuk mencintai mereka."
— Bunda Teresa, Misionaris dan Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian
Kutipan ini menggarisbawahi pentingnya empati dan tindakan nyata (cinta kasih) sebagai dasar untuk berbagi dan mengentaskan penderitaan.
Pada akhirnya, infak adalah tentang transformasi hati—mengubah rasa takut kekurangan menjadi rasa percaya akan janji Tuhan, dan mengubah ego kepemilikan menjadi semangat berbagi.(*)
Artikel Lainnya
EMPAT TINGKATAN OPINI LAPORAN KEUANGAN LEMBAGA ZAKAT
Modernisasi Pengelolaan Zakat UPZ Masjid di Kota Manado
The Philosophy of Al-Yadu Al-Ulya: Transforming Mentality, Mental Health, and Ummah Sovereignty
Zakat: Manifestasi Tauhid dan Puncak Kepasrahan Atas Rezeki
NIAT ZAKAT FITRAH DAN ZAKAT MAL
Simfoni Derita dan Kebangkitan: ZIS Sebagai Epistemologi Solidaritas
Sanksi Amil dalam Penyaluran Zakat
Raih Penghargaan Nasional IZN dan KDZ: BAZNAS Kota Manado Membuktikan Kualitas Tata Kelola Zakat di Level Nasional
A Reflection on Heroes' Day: Continuing the Baton of Struggle with the Spirit of Zakat Justice
Mengapa Hasil Korupsi Tidak Bisa Jadi Zakat, Infak, atau Sedekah?
BAZNAS Kota Manado: Urgensi Legalitas UPZ Masjid, Menjamin Kepastian Hukum dan Membangun Kepercayaan Umat.
Merdeka untuk Menyejahterakan Umat
Mengubah Zakat Menjadi Gaya Hidup: Strategi Memikat Gen Z dan Milenial di Era Digital
Memahami Zakat, Infak, dan Sedekah dalam Regulasi Indonesia
Zakat Fitrah 2026: Sharia and BAZNAS Guidelines

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Manado.
Lihat Daftar Rekening →